Beranda > Architecture > Memaknai Ruang dalam Arsitektur

Memaknai Ruang dalam Arsitektur

Di Paris ada sebuah jalan;

pada jalan itu, ada sebuah rumah;

pada rumah itu, ada sebuah tangga;

diatas tangga itu, ada sebuah ruangan;

dalam ruangan itu, ada sebuah meja;

diatas meja itu, ada sebuah kain;

dibalik kain itu, ada sebuah sangkar;

dalam sangkar itu, ada sebuah sarang;

dalam sarang itu, ada sebutir telur;

dalam telur itu, ada seekor burung.

(Lagu anak-anak dari Les Deux-Sevres – lagu tentang `Paris dan Burung`)

Lagu ini telah mengilhami kita tentang dialog konektifitas ruang-ruang dalam sebuah `endless space` – imaginasi tentang ruang yang dilebur dalam lagu ini adalah sebuah leburan fisik yang kasat mata. Paris – jalan – rumah – tangga – sebuah ruangan – meja – kain – sangkar – sarang – telur – burung adalah sesuatu yang secara fisik dapat dilihat dan mereka menunjukkan keterangkaian menjadi ruang yang lebih besar. Georges Perec mengatakan: “kita hidup dalam ruang, dalam ruang-ruang ini, ada kota, ada desa, ada koridor, ada taman dan ada yang lain-lainnya…mereka secara fisik dapat dilihat dan dirasakan”.

Pada sebuah cerita yang berbeda, didalam sebuah tulisannya “The Page”, Georges Perec menggambarkan :” Saya menulis, saya menjejakan kata-kata dalam sebuah (ruang) halaman …”. Keterangkaian huruf dan spasi membentuk keruangan, diantara kata-kata ada spasi – ada jarak – ada ruang yang terbentuk – dengan kata lain untuk mengerti tentang ruang, kita harus mengerti tentang konsep `spasi ` – spasi adalah ruang – spasi diantara tulisan-tulisan dalam selembar kertas. Ketika seorang arsitek menuliskan (baca : merancang) tentang sebuah rumah, si arsitek mulai mencoba menuliskan: Foyer – R.Tamu – R. keluarga – Km.Tidur – Dapur – KM/WC – Km. Pembantu … dan ruangan-ruangan ini adalah keterajutan tentang `ruang sebagai ruang` (space itself – misalnya : sebuah ruang untuk tidur, untuk memasak, untuk berkumpul, dll) dan `ruang_(spasi)_ ruang` (space as bar – misalnya : dari R. Tamu_ (ke)_ R. Keluarga) dan serta koneksitas ruang -ruang (space as knot), yang dalam wilayah yang lebih besar membentuk cerita tentang sebuah rumah. Lagu yang menceritakan : Paris – jalan – rumah – tangga – sebuah ruangan – meja – kain – sangkar – sarang – telur – burung adalah juga sebuah `rumah besar` yang membentuk ruang- ruang lainnya dalam setiap lompatan spasinya.

Dalam sebuah contoh lainnya, Robert Sack melihat sebuah ruang bagi masyarakat primitive adalah : “Ruang adalah tanah dan tanah bukanlah sebuah benda yang dapat dipotong-potong dan menjualnya sebagai sebuah parcel….manusia memiliki kedekatan terhadap alam dan berhubungan dengan tanah tempat mereka hidup ….tanah adalah milik bersama, tanpa ada yang mengklaim tanah sebagai milik pribadi…tanah adalah sebuah tempat yang memiliki relasi sosial”. Ruang Primitive dalam versi Robert Sack menggambarkan tidak ada ruang abstrak di luar sebuah tempat dan tidak ada tempat diluar masyarakat – mereka terkait dalam sebuah tananan keruangan. Paris – jalan – rumah – tangga – sebuah ruangan – meja – kain – sangkar – sarang – telur – burung (dari lagu diatas) adalah potongan-potongan ruang yang tidak dapat `diperjual-belikan` dalam bagian-bagiannya. Tempat (Paris) sebagai place dan Rumah (dengan ruangan-ruanganya) sebagai room menjadi multi simbiosis. Mereka membentuk ruangnya sendiri dalam koneksitas keruangan yang kompleks dinamis. Kelihatannya, sebuah ruang lahir karena ada ruang-ruang lainnya, yang kemudian ruang itu membentuk sebuah kegunaan dan ketersambungan dengan ruang-ruang yang ada sebelumnya, karena mereka (baca: ruang-ruang) tersebut saling terajut dalam kekompleksitasan bukan hanya pada kaedah fisik tetapi sosial bahkan mental didalam lapisan layer-layer keruangan.

Plato mengungkapkan dalam meruangkan ruang, berarti kita mencoba memaknai bahwa sebuah ruang hendaknya hadir sebagai yang pertama bahkan sebelum sebuah aksi kreatif terhadap ruang itu dimunculkan. Kemungkinan muncul aksi kreatif terhadap sebuah ruang akan membawa pada pengertian ruang tumbuh dalam perbedaannya sepanjang sejarah ruang itu sendiri (baca: ruang baru selalu muncul karena adanya aksi kreatif). Ruang membangun dirinya sendiri dari pengalaman dimana ruang telah dilalui oleh penggunanya. Memaknai ruang artinya memaknai aksi kreatif terhadap cara meruangkan ruang dan memwaktukan waktu. Ruang membentuk pengalamanan dan pengalaman membentuk ruang.

Herman Hetzberger mengatakan bahwa membicarakan ruang adalah membicarakan tentang berapa luasnya limit dari berbagai kemungkinan yang membangun pengertian ruang itu sendiri. Herman Hetzberger melanjutkan ruang ada didepanmu, bahkan diatas serta dibawah dirimu, ruang memberikan anda kebebasan pandangan dan pandangan tentang kebebasan. Terkadang kita menemukan sebuah ruang yang tidak terduga bahkan terkadang sulit untuk didefinisikan. Ruang adalah ruang, terkadang kehadirannya di luar jangkauan. Memaknai ruang berarti memaknai kehadirannya dengan coba menggambarkannya.

Cerita tentang : Paris – jalan – rumah – tangga – sebuah ruangan – meja – kain – sangkar – sarang – burung adalah cerita tentang bagaimana kita memaknai ruang. Pertama : Ruang dapat dirasakan secara fisik (space as room – rumah adalah sebuah room). Kedua, ruang juga terkadang menceritakan kekosongan (space as void – misalnya paradigma keruangan dari seekor `Burung` pada sebuah `Rumah` yang ada di sebuah `Jalan` di kota `Paris`, tentunya diantara mereka (secara sadar dan tidak sadar) telah terbangun semacam spasi – spasi keruangan dalam kaedah fisik – sosial dan mental). Ketiga ruang yang satu dengan ruang lainnya terkadang membentuk jarak (space as distance – misalnya nilai relativitas pergerakan dari seekor `Burung` yang berterbangan di atas `Rumah` pada kota `Paris`, udara dan darat adalah Jarak keruangan yang terbentuk). Keempat, ruang adalah sebuah tempat (space as place – misalnya Paris adalah sebuah Tempat bagi sebuah Rumah dan seekor Burung). Room – Void – Distance dan Place adalah cara kita memaknai ruang dalam Lagu `Paris dan Burung` dan jangan-jangan lagu tentang `Paris dan Burung` telah dapat menjelaskan apa yang dipikirkan `Plato dalam Timaeus-nya` dan `Aristotles dalam Physic-nya` tentang Memaknai Ruang.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: